
Oleh : Aminuddin Maddu
Liputan luwu news – Ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak di bom oleh Amerika Serikat (AS) di penghujung
Perang Duni II, Kaisar Jepang Hirohito langsung mengumpulkan para Jenderalnya yang masih
hidup. Kalimat pertama yang keluar dari mulut sang Kaisar dihadapan para Jenderalnya adalah:
“Berapa jumlah guru yang tersisa”. Pertanyaan itu membuat para Jenderal bingung, sebab
semula mereka mengira sang Kaisar akan menanyakan perihal tentara, namun justru guru yang
masih tersisa.
Para Jenderal menegaskan kepada Kaisar Hirohito, bahwa mereka masih bisa menyelematkan
dan melindungi Kaisar, walau tanpa kehadiran guru.
Menanggapi hal tersebut Kaisar Hirohito
mengatakan bahwa Jepang telah jatuh, dan kejatuhan ini karena kalian tidak belajar. Tentara
Jepang boleh kuat dalam persenjataan dan strategi perang, tetapi tidak memiliki pengetahuan
mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika.
Sang Kaisar menambahkan bahwa Jepang tidak
akan bisa mengejar Amerika jika tidak belajar, dan kemudian menghimbau pada para Jenderalnya
untuk mengumpulkan seluruh guru yang tersisa di seluruh pelosok negeri.
Hanya dalam sekitar 20 (dua puluh) tahun setelah kekalahan dalam Perang Dunia II, Jepang
bangkit yang bukan kekuatan militer dan peralatan perang, namun justru kekuatan ekonomi
terutama kemajuan Teknologi industri otomotif.
Dimulai tahun 1951 Jepang sudah menunjukkan
dominasi produk idustri sepeda motor, sebagai produk pertama kalinya adalah merek Honda,
menyusul merek Yamaha, Suzuki dan Kawasaki.
Jepang menikmati reputasi produk industry
sepeda motor yang sehat mulai tahun 90-an.
Begitupun industri mobil yang berkembang begitu pesat, sebagaimana penulis dapat
saksikan pada pertengahan tahun 70-an, satu persatu merek mobil mulai bermunculan seperti
merek Toyota, terus Daihatsu, Honda, Mitsubisi, Nissan, Nissan, Isuzu dan yang lainnya.
Seakan tiada akhirnya. Tahun-tahun 90-an, Jepang mucul sebagai raksasa produksi industry otomotif
yang menguasai pasaran dunia.
Jepang saat ini diketahui sebagai salah satu bangsa yang berperadaban tinggi, beretika. ramah,
terib, rela antri di tempat pelayanan publik.
Kota-kotanya tertata baik, bersih, nyaman dihuni dan aman dari berbagai tindak kejahatan. Selain itu, orang-orang Jepang juga sangat menghargai
para pahlawannya.
Penulis pernah terlibat dalam Pembangunan Monumen Peringatan Perang Dunia II di daerah Sarmi Kabupaten Jayapura Papua.
Diberitakan bahwa di daerah itu 3.000
(tiga ribu) tantara Jepang tewas dari Jebakan pasukan sekutu yang di pimpin oleh Jenderal Mac
Arthur dari Amerika yang monumennya masih berdiri kokoh diatas bukit Danau Sentani Jayapura.
Para tantara Jepang yang tewas itu, sebagian besar berasal dari Provinsi Yamagata, sehingga para
keluarga yang ditinggalkan tersebut menghimpun dana untuk membangun mononumen
peringatan.
Guru di Indonesia
Dulu, Guru-guru begitu di hormati di kalangan masyarakat, terutama murid sekolah., bahkan sekolah-sekolah di kampung kadang para murid membantu pekerjaan sang guru seperti
membersihkan kebun.
Sangat kontras yang terjadi saat ini, seringkali kita saksikan di berbagai pemberitaan jika sang guru di lecehkan, bahkan mendapat perlakuan intimidasi dan kriminalisasi, oleh muridnya sendiri atau orang tua murid, sampai ada yang berurusan dengan hukum.
Perlakuan Negara terhadap profesi guru juga terlihat tidak proporsional terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan.
Penulis pernah mendapati sekolah di pedalaman Papua yang gurunya disela-sela
waktunya mengajar, ia juga harus bekerja berternak ataupun berkebun dalam menambah
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Di Makassar saja saat ini banyak kita temukan guru-guru yang gajinya sangat rendah terutama guru-guru honor di Tingkat TK dan SD, padahal mereka mengajar begitu banyak anak didik generasi pelanjut.
Guru adalah garda terdepan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan tujuan
nasional sebagaimana yang ada dalam pembukaan UUD 1945.
Kesejahteraan guru sama pentingnya dengan tingkat kompetensi seorang guru, tidak boleh berat sebelah. Kemajuan suatu bangsa karena kualitas sumber daya manusianya, dan hal itu hanya dapat diperoleh melalui system Pendidikan yang baik, salah satunya adalah tingkat kesejahteraan guru harus mendapat perhatian lebih.
Sangat perlu dikaji atau dilakukan analisis secara mendalam berapa layaknya gaji atau honor
seorang guru dalam semua tingkatan Pendidikan. Jgan lagi ada gaji guru honor Rp 400.000
perbulan seperti yang di temukan di beberapa TK.
Kalau pemasukan sekolah tidak mencukupi
biaya operasional sekolah atau memberi gaji guru, kewajiban negara/pemerintah untuk
mencukupinya.
Hal ini sejalan dengan pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 yang menyebutkan, “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaran Pendidikan nasional”.
Kalau ada tunjangan Guru Besar (Profesor) sampai puluhan juta rupiah perbulan, mengapa
tidak ada tunjangan Guru Kecil terutama Tingkat TK dan SD yang tidak perlu sampai puluhan juta
rupiah.
Seorang Profesor atau dosen dapat mengatur waktunya untuk mengumpulkan harta
kekayaan dalam berbagai proyek atau usaha bisnis, sehingga tidak sedikit dosen yang memiliki
harta kekayaan berlimpah.
Dibanding dengan guru, waktunya lebih banyak habis di sekolah dari pagi sampai sore sehingga tidak ada waktu mencari penghasilan tambahan.
Besarnya tunjangan para Guru Besar/ Profesor seyogyanya diklassifikasi menurut bobot, publikasi dan kemanfaatan karya tulis.
Bagi penulis, kesejahteraan guru sangatlah esensial dalam mewujudkan suatu negara
sejahtera yang maju, sebagaimana dilakukan oleh bangsa Jepang yang bangkit dari keterpurukan
menjadi negara termaju di dunia dalam berbagai aspek kehidupan.
Penulis adalah:
Mahasisiwa Ilmu Hukum UT,
Pemerhati masalah sosial ekonomi
dan sebagai Caleg DPRD Sulsel
Dapil 2 Makassar B Partai UMMAT
